Jalan jalan sehari di Sumenep

Jika suatu ketika anda jalan2 ke Sumenep Madura jangan lupa menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sejumlah obyek wisata yang ada di kawasan tersebut. Setidaknya kunjungan tersebut akan dapat memperkaya khasanah pemahaman kita tentang sekelumit tentang sejarah kabupaten paling timur di Pulau garam yg memiliki peranan penting dalam berdirinya kerajaan Mojopahit yang dirintis oleh R. Wijaya.
Karena berkat strategi dan dukungan Adipati Sumenep I yaitu Arya Wiraraja yang bergelar Banyak Wide itu, R. Wijaya berhasil mengusir tentara Tartar setelah sebelumnya pasukan Kubilai Khan itu ‘dirangkul’ untuk menghancurkan Kediri (Daha).
Untuk urusan wisata Sumenep memiliki tidak kalah dengan daerah lain. Kabupaten ini memiliki sejumlah obyek wisata yang cukup menarik, mulai dari wisata alam, wisata religi, wisata budaya hingga wisata kuliner.
Yang cukup menonjol obyek wisata di Sumenep adalah wisata religi. Selain pondok pesantren di Sumenep juga banyak dijumpai situs-situs makam kuno yang tersebar pada berbagai kawasan yang hingga kini dikeramatkan oleh penduduk.
Makam-makam kuno tersebut semuanya terkait dengan sejarah perkembangan Kerajaan Sumenep sejak Arya Wiraraja dilantik pada 31 Oktober 1269.
“Karena lokasinya tersebar, maka jika akan melakukan wisata religi ke situs-situs makam itu tidak akan tuntas dalam tempo dua hari,” ujar H. Rofik, seorang pengusaha sukses yang mendampingi kami keliling pada 16 September 2012.
Sejumlah makam karamat tersebut adalah Asta Tinggi, sebuah komplek makam raja dan pembesar Kerajaan Sumenep, Asta Bato Ampar, Asta Gumok Brambang Kalimook, Asta Sayyid Yusuf Talango di Kalianget, Asta Panaongan, Asta Pangeran Kantandur, Asta Jokotole dan masih banyak yang lainnya. Untuk mengunjungi makam2 keramat itu tidak cukup waktu dua hari.
Bahkan ketika kami berkunjung ke Sumenep pada 16 September 2012, kami hanya berkeliling ke tiga obyek saja. Pertama komplek makam raja Asta Tinggi, masjid Agung Sumenep yang dibangun 1779, Moseum dan keraton Sumenep.
Sedikitnya obyek wisata yang kami kunjungi disebabkan karena waktu yang kami miliki sangat terbatas, yakni cuma sehari. Itupun memanfaatkan waktu disela acara Reuni SPMA Negeri Malang alumni 1977.
Tapi paling tidak kunjungan tersebut sedikit dapat mengobati sebagian kecil rasa penasaran kami terhadap sejarah Sumenep.

Makam Asta Tinggi
Pagi sekitar pk.09.00 setelah sarapan kami menuju Asta Tinggi di Desa Kebon Agung, Kec. Kota sumenep. Komplek makam raja-raja dan pembesar kerajaan Sumenep itu dibangun sekitar tahun 1750 M. Semula proyek Makam itu direncanakan oleh Panembahan Somala dan dilanjutkan pelaksanaanya oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II. Asta Tinggi berdiri diatas tanah perbukitan kapur dengan luas lahan 112,2 x 109,25 meter. Makam Asta Tinggi selalu ramai dipadati pengunjung. Pada hari-hari biasa rata-rata sekitar 2.000 orang, tapi kalau pas liburan bisa mencapai 3.000-4.000 per hari.
Jarak Asta Tinggi dari kota tidak terlalu jauh hanya sekitar 2,5 dari pusat kota dengan jalanan yang cukup lengang, sehingga perjalanan cukup lancar.
Pagi itu di sekitar makam sudah mulai banyak berdatangan tamu2 wisatawan dari luar daerah. Mereka bergerombol didepan komplek makam sebelum masuk komplek secara hampir berbarengan.
Meski hari masih relatif pagi, namun panas terik matahari terasa mulai menyengat. Bebatuan kapur yang berada di sekitar makam memantulkan panas hingga terasa silau dimata. Apalagi lahan makam Asta Tinggi relatif terbuka dan jarang ditumbuhi pepohonan, sehingga teras panas mentari semakin menyengat.
Asta Tinggi terdiri atas tujuh kawasan, dimana kawasan induk terdiri dari kubah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro ( Bendoro Saod ), Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III ( Pangeran Akhmad atau Pangeran Djimat ), Kubah Pangeran Pulang Djiwo, Pemakaman istri-istri serta selir Raja-Raja Sumenep.
Selain para raja, komplek makam Asta Tinggi juga terdapat makam pembesar kerajaan yang lain, seperti patih bersama keluaeganya.
Arsitektur makam Asta Tinggi sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa
kebudayaan yang berkembang pada masa itu, yaitu mulai Hindu, Islam awal, Tiongkok bahkan Eropa.
Hal itu terlihat dari penataan kompleks makam dan beberapa ukiran batu nisan yang terjadi pada masa awal berkembangnya islam di tanah Jawa dan Madura.
Pengaruh kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo.
Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, seluruh bangunannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik, kolom-kolom ionic masih dipakai dibeberapa tempat termasuk juga pada kubah makamnya.
Selepas berdoa di komplek makam, kami bergeser ke Masjid Jamik Sumenep. Namun sebelum itu kami menyempatkan diri untuk belanja oleh2 khas Sumenep pada para pedagang kali lima (PKL) yang berderet diluar tembok pagar makam.

Masjid Agung Sumenep
Masjid Agung Sumenep terletak di jantung kota Sumenep, tepatnya di depan Taman Kota Adipura. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang memiliki ciri gaya aristektur perpaduan gaya Islam, Persia, India, Cina dan bahkan Eropa. Akulturasi design itu bisa dilihat adalah dari pintu gerbangnya, yang terlihat kokoh layaknya sebuah benteng di Roma dengan pintu kayu kuno.
Masjid ini di bangun oleh Pangeran Arya Notokusumo I (1762-1811), yang terkenal dengan Panembahan Sumolo pada tahun 1779 hingga 1787 M. Arsitek Masjid ini adalah Lauw Piango, yaitu arsitek yang sebelumnya membangun keraton Sumenep dan selesai pada 1752 M.
Sebenarnya, mesjid ini adalah pemugaran dari mesjid Laju yang dibangun oleh Pangeran Anggadipa (yang bernama asli Aria Asirudin Natakusuma), Adipati Sumenep (1626-1644).
Bentuk gerbang utama mesjid yang melengkung terbuat dari kayu. Bentuk pintu gerbang yang sama dengan pintu gerbang Keraton Sumolo. Diatas pintu gerbang utama terdapat bedug ukuran besar peninggalan masjid Laju.
Sebagai penyanggah gerbang utama yang kokoh dan besar, dibangun pula tembok bagian depan yang setebal setengah meter. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa corak kebudayaan Portugis tampak nyata pada bangunan bagian depannya.
Terdapat pula kubah kecil di puncak bangunan yang ada di sudut kiri dan kanan halaman masjid, nampak mewakili arsitektur Arab-Persia. Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas yang menjulang tinggi berbentuk tajuk mengingatkan kita kepada bentuk-bentuk candi di Jawa dan kerajaan Hindu di Bali.
Tidak hanya itu, ada pula penambahan ornamen-ornamen yang menggunakan warna-warna cerah menyala, yang secara tegas menggambarkan corak bangunan dari Gujarat-Cina.
Semakin kental atmosfirnya ketika berada di bagian dalam bangunan utama. mihrab masjid yang berusia 799 tahun, pada mimbar khotbah, hingga ornamen seperti keramik yang menghiasi dindingnya.
Dari tinjauan arsitektural, mesjid Agung Sumenep memang telah menjadi bukti adanya akulturasi kebudayaan di Sumenep pada masa silam.

Keraton Koneng
Puas melihat Masjid Agung Sumenep kami mengunjungi Museum Sumenep yang letaknya tidak jauh dari Masjid Agung dan alun2 kota Sumenep. Karena dekat bisa dicapai dengan jalan kaki.
Museum merupakan gedung yang menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Sumenep. Lokasinya berada di depan komplek keraton. Di gedung ini tersimpan a.l beberapa guci dan keramik berbagai ukuran dari Tiongkok, mushaf Al Quran raksasa uk 3×4 meter yang ditulis seorang wanita dari desa Bluto tahun 2005 selain itu juga ada kereta kencana dan kereta kuda pemberian Kerajaan Inggris, tempat tidur kuno hingga meja kursi serta lampu gantung hingga batik khas Sumenep.
Dari sini kami menyeberang ke museum keraton Sumenep yang kini masih difungsikan sebagai pendopo Kabupaten Sumenep.
Keraton Sumenep sendiri dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762 M oleh arsitek Liaw Piau Ngo dari China yang memadukan gaya arsitektur Islam, Eropa, China, dan Jawa. Bangunannya terdiri dari bangunan induk keraton, taman sare, dan lahan museum.
Pada setiap ruangan terpajang berbagai benda yang menjadi saksi perjalanan kerajaan Sumenep.
Dalam museum keraton tersimpan alat-alat untuk upacara mitoni atau upacara tujuh bulan kehamilan keluarga raja. Ada juga meriam dan kaca rias berukuran besar, senjata-senjata kuno berupa keris, clurit, pistol, pedang, tombak, bahkan samurai hingga baju besi.
Pada bagian lain juga tersimpan pakaian kebesaran raja, serta baju pangeran yang terbuat dari kulit harimau. Beragam guci dan keramik kuno dari Tiongkok menghiasi etalase museum seakan ingin menjelaskan eratnya jalinan hubungan antara kerajaan Sumenep dan kerajaan China.
Ada pula arca, baju kebesaran sultan dan putri Sumenep, serta kamar tidur raja Sumenep yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Tersimpan pula fosil ikan paus yang terdampar di Pantai Sumenep tahun 1977. Di museum ini Anda juga dapat juga melihat mushaf Alquran yang ditulis oleh Sultan Abdurrachman (Pakunataningrat I)
Ada juga koleksi unik museum. yaitu berupa piring ajaib yang dikenal dengan nama magic rower. Piring nasi tersebut diyakini memiliki kekuatan magis dimana nasi yang dihidangkan di atasnya tidak basi meskipun sudah satu minggu.
Piring ini merupakan tempat nasi berbentuk oval dengan gambar Raja Sampang Condronegoro (1830) hadiah bagi raja Sumenep ke-32, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (1811-1854).
Bagian ketiga berada di dalam keraton yang disebut Museum Bindara Saod karena dahulu merupakan tempat Bindara Saod menyepi (Rumah penyepian Bindara Saod).
Ruangan ini terdiri lima bagian yaitu teras rumah, kamar depan bagian timur, kamar depan bagian barat, kamar belakang bagian timur dan bagian barat.
Baik Museum, Museum Kantor Koneng dan Museum Bindara Saod, selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Keraton Sumenep sendiri dikenal dengan sebutan Potre Koneng (Putri Kuning). Julukan ini diberikan karena dahulu pernah hidup seorang permaisuri yaitu Ratu Ayu Tirto Negoro.
Putri ini memiliki kulit kuning bersih. Maka untuk menghormati sang permaisuri maka atap Keraton Sumenep diberi warna kuning cerah.
Di dalam keraton terdapat Pendopo Agung, Kantor Koneng, dan bekas Keraton Raden Ayu Tirto Negoro yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno.
Pendopo Agung sampai saat ini masih dipakai sebagai tempat diadakannya acara-acara kabupaten seperti penyambutan tamu, serah terima jabatan pemerintahan, dan acara kenegaraan lainnya.
Sedangkan Kantor Koneng atau kantor raja adalah ruang kerja Sultan Abdurrachman Pakunataningrat I selama masa pemerintahannya tahun 1811 sampai 1844 Masehi.