Bahasa :
Rangkul Koperasi untuk Genjot Pembiayaan | ::Official Website BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur::

Rangkul Koperasi untuk Genjot Pembiayaan

Upaya optimalisasi fungsi sebuah kelembagaan untuk mencapai target jamak terjadi. Demikian halnya dengan yang dilakukan manajemen Bank UMKM Jawa Timur (Bank BPR Jatim). Hanya saja upaya terobosan yang dilakukan manajemen Bank UMKM Jawa Timur (Bank BPR Jatim) Cabang Banyuwangi untuk memberikan layanan terbaik bagi kelompok usaha skala kecil mikro, termasuk lembaga keuangan skala mikro yang ada di wilayah kerjanya tampaknya patut ‘dilirik’.
Lihat saja, strategi ‘merangkul’ lembaga koperasi yang ada di Kab. Banyuwangi cukup efektif. Bukan saja dalam upaya mendongkrak kinerja usaha, tapi juga memperluas jangkauan layanan ke nasabah hingga ke daerah-daerah pelosok ditengah keterbatasan jaringan layanan yang ada. Multiplier efect yang ditimbulkan juga memiliki pengaruh lebih luas.
Suyitno, Pemimpin Cabang Bank UMKM Jawa Timur Cabang Banyuwangi sadar, untuk menjangkau nasabah-nasabah, terutama kalangan kelompok usaha mikro yang tersebar merata hingga ke pelosok-pelosok di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki wilayah terluas di Provinsi Jawa Timur akan mustahil dilakukan sendiri dalam waktu cepat.
Pasalnya Bank UMKM Jawa Timur Cabang Banyuwangi saat ini hanya memiliki satu kantor cabang, dua Kantor Pelayanan Kas (KPK) di Kec. Rogojampi dan Kec. Giri serta satu unit mobil kas keliling.
“Kondisi ini jelas tidak optimal dalam melakukan layanan ke nasabah yang tersebar luas di berbagai pelosok desa di Kab. Banyuwangi yang luasnya paling luas di Jawa Timur.”
Makanya dengan bersinergi dengan lembaga lain, dalam hal ini lembaga koperasi adalah sebuah keniscayaan. “Tanpa bergandengan pihak ketiga, seperti lembaga koperasi dipastikan jangkauan layanan kami tidak akan bisa dipacu dengan pesat,” kata Suyitno beberapa waktu lalu.
Lha kenapa harus koperasi. Suyitno memberikan alasan, koperasi di Banyuwangi itu jumlahnya cukup banyak dengan lokasi yang tersebar hingga ke seluruh kawasan serta jumlah anggota dan calon anggotanya sangat besar.
“Jika kita bisa merangkul mereka, kami optimistis, pencapaian target usaha yang ditetapkan manajemen akan tercapai dengan baik dalam waktu yang relatif lebih singkat dan efisien.”
Untuk melakukan strategi tersebut, Suyitno kemudian menggandeng Dinas Koperasi dan UKM Kab. Banyuwangi. Melalui sebuah acara Temu Usaha yang digelar pada Mei lalu yang juga melibatkan Pusat Pengembangan Masyarakat Adi Karya Bocah Angon atau Klinik UKM, sebuah lembaga konsultan keuangan usaha mikro serta puluhan pengurus koperasi di Banyuwangi, hasilnya cukup menggembirakan.
Meski belum genap empat bulan sejak kemitraan itu dijalin, hingga kini sudah hampir 40 koperasi bergabung. Dalam pertemuan tersebut Suyitno memberikan berbagai pemberdayaan atau sosialisasi tentang skema pembiayaan sekaligus sistem dan mekanisme serta persyaratan kerjasama dimaksud. Termasuk program pendampingan terhadap koperasi mitra yang dilakukan oleh Klinik UKM.
“Rambu-rambunya kita jelaskan secara detil. Alhamdulillah belum genap emat bulan hamper 40 koperasi yang mendapatkan kucuran kredit dari kita. Kalau rata-rata satu koperasi mendapat kredit Rp300 juta, maka sudah sekitar Rp12 miliar kredit kami cairkan untuk koperasi di Banyuwangi.”
Nilai pembiayaan dengan pola Linkage Programe (LP) ini, kata Suyitno, masih terus tumbuh sejalan dengan besarnya minat koperasi di Banyuwangi bergabung ke Bank UMKM Jawa Timur Cabang Banyuwangi.
“Lihat saja beberapa proposal pengajuan kredit dari koperasi numpuk. Masih kami kaji aspek kelayakan usahanya. Kalau bagus ya kami cairkan,” katanya sambil menunjuk tumpukan proposal di meja kerjanya.
Suyitno mengakui, kerjasama dengan lembaga koperasi mendongkrak kinerja usahanya. Jika pada Desember 2011 aset mencapai Rp33,080 miliar, pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp31,164 miliar dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp24,298 miliar, maka pada minggu ketiga Juli 2012, asetnya tumbuh menjadi Rp45,326 miliar, kredit yang disalurkan sebesar Rp40,560 miliar dan DPK menjadi Rp35,442miliar.
Demikian halnya dengan laba yang dicapai. Jika pada akhir 2011 tercatat sebesar Rp1,485 miliar, maka pada pekan ketika Juli tercapai Rp1,285 miliar.
“Pencapaian ini sudah melampaui target anggaran 2012 yang ditetapkan tumbuh 20%. Sehingga kami yakin dengan semakin bertambahnya jumlah koperasi yang bergabung ke kami, kinerja kami tahun ini akan tumbuh lebih besar lagi.”

‘Tidak benturan’
Suyitno mengemukakan dengan kerjasama koperasi yang merupakan lembaga ekonomi kerakyatan akan banyak manfaat yang bisa dipetik.
Sebagai sesama lembaga keuangan mikro antara Bank UMKM Jawa Timur dan koperasi memiliki kepentingan yang sama, yaitu demi tumbuhnya perekonomian masyarakat di level bawah. “Dengan sinergi ini maka tidak akan terjadi benturan di pasar karena ada kesepakatan-kesepakatan.”
Menyadari hal itu maka tingkat suku bunga yang diberlakukanpun juga relatif murah. Yakni 0,9% flat atau sekitar 20% efektif menurun. “Dari situ koperasi masih bisa jual dengan rate yang terjangkau para pengusaha.”
Dengan demikian maka kalangan dunia usaha skala mikro tersebut masih bisa bergerak lebih leluasa. “Sinergi ini kedepannya akan menimbulkan multiplier effect yang besar, yaitu dunia usaha akan tumbuh, maka akan tercipta lapangan pekerjaan yang bisa menyerap tenaga kerja dan kesejahteraan juga naik. Dampak ikutannya perekonomian di perdesaan akan juga tumbuh. Maka pendapatan asli daerah juga naik. Berikutnya pajak yang masuk ke pemerintah juga naik. Itulah yang dibutuhkan untuk pembangunan di daerah.”
Ini, sejalan dengan kebijakan Pemkab Banyuwangi untuk memajukan ekonomi perdesaan. Seperti dikemukakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kab. Banyuwangi Bambang Sujarwo.
“Sinergi antar lembaga layanan publik seperti yang dijalankan Bank UMKM dengan koperasi sangat tepat dan saling menguntungkan. Kami berharap ke depan kerjasama serupa terus diintensifkan agar kemajuan ekonomi di kawasan pinggiran maju lebih pesat lagi.”
Bank UMKM Jawa Timur, lanjut dia, merupakan bank BPR yang pertama kali bergandengan tangan dengan koperasi dengan pola Linkage Programe (LP), karena umumnya selama ini LP dilakukan antara bank umum dengan BPR atau koperasi. “Kalau BPR dengan koperasi baru sekarang ini.”
Dalam memberikan layanan Bank UMKM Jawa Timur Cabang Banyuwangi kepada mitra koperasinya seperti diakui I Made Suratmanto, Ketua Koperasi Tugu Mega Mandiri yang berkantor pusat di Kec. Jajag relatif singkat.
“Cukup cepat ya, tidak sampai tiga minggu cair. Padahal kalau ke bank lain bisa lebih bulan. Itu jika persyaratannya lengkap,” kata I Made Suratmanto. Saat itu dia mencairkan pinjaman senilai Rp300 juta.
Suyitno mengaku, sebenarnya proses pencairan kredit bisa lebih cepat lagi. Tapi karena ada beberapa hari libur akhirnya agak molor beberapa hari. “Dua minggu bisa kok.”
Pemda Kab. Banyuwangi menaruh harapan besar terhadap terbangunnya sinergi dua lembaga ekonomi skala kecil mikro tersebut, yakni pemberdayaan ekonomi perdesaan berbasis kerakyatan.
Jika usaha kecil mikro yang berada diperdesaan tersebut tumbuh subur dan kuat, maka dampaknya akan dirasakan oleh daerah secara keseluruhan. Inilah yang mendorong Bupati Banyuwangi untuk meningkatkan peran sertanya dengan meningkatkan porsi kepemilikan sahamnya di bank UMKM Jawa Timur.
“Jika sebelumnya penempatan modal Pemkab Banyuwangi di Bank UMKM Jawa timur sebesar Rp3,090 miliar, maka dalam waktu dekat akan ditambah Rp5 miliar lagi. Setidaknya pada awal 2013 sudah masuk,” kata Suyitno.
Selain itu, lanjut dia, imbal hasil berupa dividen dari penempatan dana sebagai saham di Bank UMKM Jawa Timur juga sangat besar, dimana rata-rata earning per share (EPS)-nya selama inii rata-rata mencapai 45%-50%. “sangat signifikan. Mana ada lembaga usaha lain saat ini yg dapat memberikan imbal hasil sebesar itu per tahun.”

/Pembatasan bunga kredit/
Upaya Suyitno dalam pemberdayaan kelompok usaha mikro di daerah tidak hanya berhenti di situ. Kini pihaknya tengah menyusun skenario tentang pembatasan suku bunga yang diberikan koperasi kepada anggotanya.
Hal ini dilakukan guna memberikan kesempatan lebih longgar bagi kalangan dunia usaha mitra untuk berkarya. “Kalau dunia usaha maju tentunya semua akan ikut merasakan dampaknya yang lebih luas lagi.”
Hanya saja, lanjut dia, pembatasan suku bunga tersebut belum akan diberlakukan pada tahun ini. “Nanti setelah sumberdana yang berasal dari LPDB kantor Kementerian Koperasi dan UKM turun, baru kebijakan kontrol bunga itu diberlakukan. Sementara saat ini semua pembiayaan yang dikucurkan berasal dari dana internal.”
Mekanisme untuk kontrol suku bunga tersebut juga sudah disiapkan, yakni dengan melibatkan lembaga pemantau yang berasal dari Dinas Koperasi dan UKM setempat serta Klinik UKM.
Suyitno mengakui pemberdayaan ekonomi bagi kelompok usaha kecil dan mikro tidak akan bisa dilakukan sendiri mengingat keterbatasan yang ada. Untuk itu dia merangkul Klinik UKM Pusat Pengembangan Masyrakat Adi Karya Bocah Angon sebagai lembaga konsultan.

Translate »