Bahasa :
Dalam bekerja berikan yang terbaik dan ikhlas, Insya Allah hasilnya diluar hitungan kita | ::Official Website BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur::

Dalam bekerja berikan yang terbaik dan ikhlas, Insya Allah hasilnya diluar hitungan kita

Gerak maju usaha Bank UMKM Jawa Timur (Bank BPR Jatim) sangat pesat setidaknya dalam dua tahun terakhir. Aset yang dimiliki Bank UMKM Jawa Timur, saat ini (akhir September 2012) menjadi Rp 1,215 triliun. Demikian halnya dengan laba yang dicetak juga membengkak menjadi Rp 18, 3 miliar.
Belum lagi ekspansi jaringan kantor dari + 140an unit menjadi 196 unit. Bahkan kini Bank BPR yg sahamnya dimiliki Pemprov Jatim dan 20 Pemkot/Pemkab di Jatim itu telah mengoperasikan ATM, satu2nya BPR yang memiliki ATM di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri kemajuan tersebut tidak terlepas dari tangan dingin R. Soeroso yang sejak April 2010 dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama BPR.
Bahkan jika pada umumnya kebanyakan BPR sulit mengakses sumber dana utk pengembangan usahanya, hal tersebut tidak berlaku bagi Bank UMKM Jawa Timur yang seolah bisa dikatakan ‘kebanjiran’ dana.
Betapa tidak, tercatat tidak kurang dari tiga lembaga perbankan, seperti Bank BNI 1946, Bank CMB Niaga, Bank Jatim yang menempatkan dananya dengan nilai total Rp218 miliar. Belum termasuk yayasan sosial, seperti yayasan Darmais, Supersemar, hingga Dana Mandiri mempercayakan pengelolaan dananya di Bank UMKM Jawa Timur hingga puluhan miliar rupiah.
Demikian halnya dengan Kantor Kementerian Koperasi dan UKM juga telah menunjuk Bank UMKM Jawa Timur sebagai penyalur pembiayaan bagi usaha kecil mikro dan koperasi dengan nilai Rp30 miliar melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
Lebih dari itu Bank Duniapun juga mempercayakan penyaluran bantuan ditujukan bagi kelompok masyarakat pengguna pemakai air bersih dan sanitasi (HIPPAMS) dan pemberdayaan PDAM melalui Bank UMKM Jawa Timur dengan nilai hingga Rp740 miliaran. “Kami jadi incaran lembaga negara maupun lembaga keuangan besar untuk penyaluran pembiayaan bagi kelompok usaha atau kelompok masyarakat sasaran.”
Dengan segudang prestasi tersebut menjadi hal yang lumrah jika akhirnya Bank UMKM Jawa Timur selalu menjadi ajang studi banding dari manajemen lembaga BPR lain, khususnya BPR anggota Perhimpunan BPR milik daerah (Perbamida) dari seluruh Indonesia dengan jadwal yang cukup padat.
Untuk mengetahui sejauh mana dan kiat2 yang dilakukan putra kelahiran Solo 10 September 1954 itu, R. Soeoso menuturkannya kepada Mitra UMKM Jawa Timur. Seperti kutipannya dibawah ini. Namun sebelum mengungkapkan kiat-kiatnya mengembangkan Bank UMKM Jawa Timur, R. Soeroso menyebutkan jurusnya…..“Kuncinya sebetulnya sederhana, ikhlas dan Istiqomah. Berikan yang terbaik, jangan hitung2an hasil. Insya Allah hasilnya sangat diluar hitungan kita. Silakan dibuktikan.”
Ayah dua putra dan satu putri yang kini hidup bahagia dengan empat cucu tersebut, menjelaskan mengawali karirnya sebagai karyawan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jatim yang kini dikenal sebagai Bank Jatim pada Januari 1979 di bidang akuntansi.
Saat itu dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ilmu Sosial jurusan Ekonomi Perusahaan IKIP Surabaya (kini Unesa) pada 1978.
Setelah berpindah-pindah tugas, Soeroso sempat beberapa kali menjabat Pemimpin Cabang a.l di Malang, Probolinggo, Jember, dan Sidoarjo sebelum akhirnya dipercaya menduduki jabatan Kepala divisi Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary) hingga memasuki masa pensiun awal 2010.

Gila pendidikan
Meski selama bekerja di Bank Jatim sangat menyita waktunya, suami dari Endang Wijayanti mengaku sangat suka menuntut ilmu. Tidak puas dengan gelar sarjana dari IKIP, dia kuliah lagi di FE Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi yang dapat diselesaikan pada 1985.
Kemudian meneruskan kuliah di program master (S2) di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta dan selesai pada 2000.
Tidak mandeg di situ, berbagai pelatihan atau kursus juga diambilnya. “Kalau ngak salah sampai 22 kursus yang saya ikuti selama bekerja di Bank Jatim. Diantaranya yang penting a.l Pengawas Kredit, Kursus Branch Manager, Sespi Bank angkatan XXIX yang semuanya dilaksanakan oleh Bank Indonesia Jakarta.”
Beberapa diantara pelatihan yang diikuti, Soeroso mengaku meraih peringkat pertama hingga lima. “Ngak usah dirinci. Toh semua itu demi untuk optimalisasi kapasitas diri dan pembuktian bahwa kita mampu…itu kalau kita bersungguh-sungguh.”
Termasuk ketika memimpin Bank UMKM Jawa Timur, semula tidak banyak yang mengira bahwa bank kecil selevel BPR bisa melejit seperti sekarang ini.
“Itu tandanya apa…kita bisa mengoptimalkan fungsi dan peran seluruh bagian yang ada di sekitar kita, termasuk fungsi pengawasan. Hal itu terlihat sampai sekarang ratio kredit bermasalah (loan to deposit ratio/NPL) relatif rendah dengan kisaran 1%.”
Fraud-fraud yang muncul harus segera ditangani serius dan tuntas. Jangan ditunggu sampai berlarut-larut agar tidak menjadi besar dan kronis. Segera amputasi dan tempatkan orang yang capable. “Kalau fraud sudah menjadi besar dan kronis akan lebih sulit mengatasinya karena kerusakan dapat merambat kemana-mana.”
Selain intensif melakukan optimalisasi dan peran di kalangan internal, Soeroso juga getol melakukan lobby ke jajaran eksternal. “Kami gencarkan lobby..kesemua lini yang potensial kami masuki…kami jelaskan langkah dan kebijakan manajemen Bank UMKM Jawa Timur itu begini begitu dengan fokus pembiayaan bagi kelompok usaha kecil mikro…kalau tidak begitu mana ada yang paham dan peduli.”
Pihaknya juga “ngotot’ dan meyakinkan para pemilik dana bahwa pemberdayaan ekonomi ke sektor bawah itu adalah tugas mulia dan dijamin aman karena sudah ada Jamkrida yang mem-back –up kredit yang disalurkan hingga 70%.
“Alhamdulillah banyak yang ngerti dan akhirnya peduli. Setelah itu mengalirlah dana dari beberapa sumber….bahkan kami justru kerap ditanya oleh mereka…butuh berapa lagi….”

Pimpin beberapa organisasi
Sukses Soeroso mendongkrak kinerja usaha Bank UMKM Jawa Timur telah mendorong dirinya mendapat kepercayaan dari sejumlah lembaga organisasi untuk menjadikannya sebagai pimpinan atau pengurus.
Diantaranya sebagai Bendahara Ikatan Sarjana Ekonomii Indonesia (ISEI) Jatim, Wakil Ketua DPD Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Jatim 2011-2015, Ketua Litbang Perbarindo Nasional 2011-2015.
Pada Agustus 20012 pria 58 tahun yang suka bersilaturahmi ini ditetapkan sebagai Pelaksana Revitalisasi KUD Se Jawa Timur oleh Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan pada 20 Agustus 2012 yg tertuang dalam SK No.92/M.KUKM/VIII/2012 tentang Program Pengembangan Usaha Produktif KUD di Indonesia.
Terakhir pada 14 September lalu Soeroso ditetapkan sebagai Ketua Kompartemen Keuangan dan Perbamida Badan Kerjasama (BKS) BUMD Se Indonesia saat berlangsungnya Munas Badan Kerjasama (BKS) BUMD se Indonesia di Jakarta.
Terhadap beban-beban yang dipikulkan di pundaknya yang semakin sarat, Soeroso mengatakan akan dijalaninya dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab. “Semoga amanah,” katanya singkat.
Menanggapi tugas baru sebagai Ketua Kompartemen Keuangan dan Perbamida BKS BUMD Se Indonesia Soeroso mengaku kaget. “Jujur saya tidak punya bayangan maupun obsesi untuk menduduki jabatan ini yang anggotanya adalah kalangan dirut dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), termasuk didalamnya Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang mengelola aset sekitar Rp1.500 triliun.”
Apa yang akan anda lakukan dengan tugas itu
Saya ingin menjalin sinergitas antara BPR Perbamida dan BPD anggota Asbangda dalam pembiayaan bagi kalangan dunia usaha kecil mikro di daerah masing2. Ini bukan pekerjaan ringan. Kalau terealisasi ini merupakan sinergi yang hebat utuk pemberdayaan usaha skala bawah ini.
Kami akan memprakarsai fokus pemberdayaan itu, yaitu untuk usaha mikro kecil yang baru rintisan pada level sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama (SD-SMP) dilayani oleh BPR anggota Perbamida, sedang jika usaha sudah naik dan menjadi usaha dengan skala menengah hingga korporasi pada level SMTA hingga perguruan tinggi, yaitu usaha yang sudah berkembang dan established dilayani oleh BPD anggota Asbangda.
Layanan nasabah pada usaha level bawah tadi cukup dijamin oleh Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida), sedang usaha pada level menengah atas tadi dijamin oleh Askrida. Pemilahan ini penting agar fokus dalam memberikan layanan, sehingga tidak terkesan overlaping atau rebutan.
Teknisnya akan kami jabarkan dalam program yang akan kami sosialisasikan dalam waktu dekat.
Sedang sebagai Pelaksana Revitalisasi KUD Se Jawa Timur, apa yang akan dilakukan…
Ini juga tugas besar. Karena diharapkan dapat menghidupkan peran KUD sebagai penyedia kebutuhan pupuk, benih padi unggulan hingga obat2an pertanian bagi gabungan kelompok tani (Gapoktan).
Anda ketahui dulu peran KUD sangat dominan dalam melayani kebutuhan masyarakat di bidang pertanian dan pangan. Namun semua itu sekarang mati suri sejak kasus kredit usaha tani (KUT) yang macet beberapa tahun lalu.
Kami akan merangkul semua potensi sumberdaya yang ada di daerah, termasuk Bulog Divre hingga Sub Divre di daerah2. Karena mereka yang selama ini menjalankan fungsi pengamanan pangan dan stabilisasi harga beras justru mengalami kesulitan karena tidak memiliki lantai jemur dan gudang untuk menyimpan gabah hasil panen petani secara optimal.
Apalagi program pengadaan pangan yang ditugaskan pemerintah kepada Bulog relatif kecil, rata-rata hanya sekitar 7% dibandingkan realisasi panen petani.
Bank UMKM Jawa Timur (BPR Jatim) akan menyediakan pembiayaan bagi KUD, yang diperuntukkan bagi pembelian gabah petani saat panen, perbaikan lantai jemur, gudang hingga failitas penggilingan. Dengan demikian maka peran dan fungsi KUD bangkit kembali.
Kami dalam memberdayakan KUD akan dipilah berdasarkan skala usaha dan tingkat kesehatan usahanya. Yaitu sangat sehat, sehat, menengah atau sedang sedang saja, kurang sehat dan tidak sehat atau buuruk. Masing-masing akan ditreatmen sesuai dengan kondisinya.
Apakah ada strategi lain yang kini anda lakukan untuk memperluas jaringan layanan Bank UMKM Jawa Timur
Ada,…baru2 ini kami merangkul Dewan Masjid Jawa Timur dan yayasan Damandiri. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka pemberdayaan kelompok Pos Daya berbasis masjid.
Dewan masjid di Jawa Timur beranggotakan sekitar 300 masjid. Kami akan giring para pengurus takmir masjid maupun jamaahnya untuk membentuk koperasi. Kepada koperasi yang dibentuk kami siapkan pembiayaan untuk pemberdayaan ekonomi keluarga mereka.
Disisi lain, dana kas yang terkumpul dimasjid-masjid disimpan di Bank UMKM Jawa Timur. Dana ini bisa dijadikan cash colateral. Meski diluar itu juga ada Jamkrida yang menjamin kredit yang disalurkan. Ini benar-benar merupakan program penguatan ekonomi kelompok masyarakat berbasis masjid.
Diluar itu juga masih ada proram penguatan ekonomi bagi kelompok Pos Daya koperasi berbasis pondok pesantren. Bahkan dan juga melibatkan kalangan perguruan tinggi islam. Bahkan kerjasama ini berjalan lebih awal dibanding kerjasama dengan Dewan Masjid.
Bahkan nanti pada 5-8 Oktober 2012 kami diundang dalam sebuah pertemuan Pondok Pesantren se Indonesia di Bondowoso untuk menyalurkan dana bantuan dari yayasan Darmais ke pondok pesantren. (Bambang Sutejo)

Translate »