Bahasa :
Bank UMKM Jawa Timur ‘mengorangkan’ TKI dan keluarganya | ::Official Website BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur::

Bank UMKM Jawa Timur ‘mengorangkan’ TKI dan keluarganya

Akhir-akhir ini kesibukan Manaf Miswanto, semakin sibuk. Betapa tidak selain mengurusi usahanya berupa toko swalayan dan warung internet (warnet) yang didirikan di sejumlah desa di lingkungan Kec. Kalipare Kabupaten Malang, dia juga disibukkan oleh kegiatan usaha Koperasi Pos Daya TKI Purna Senang Hati dimana dia menjadi ketuanya.
Kerapkali pihaknya harus menghadiri acara hingga terima kunjungan tamu dari berbagai daerah, termasuk pejabat tinggi dari Jakarta maupun Surabaya. “Harus pintar-pintar bagi waktu,” katanya saat ditemui di Malang, belum lama ini.
Kegiatan Manaf memang makin padat sejak lembaga swadaya Koperasi Pos Daya Senang Hati yang didirikan 2,5 tahun lalu menjadi perhatian publik. Padahal lembaga yang didirikan itu relatif biasa2 saja, yaitu berupa kelompok usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan.
Hanya saja karena yang terlibat aktif dalam kelompok usaha tersebut adalah para alumni TKI atau TKI Purna yang berjumlah ratusan orang dengan menggeluti berbagai jenis kegiatan ekonomi riil skala mikro, mulai dari perdagangan, catering, menjahit, konfeksi, mebelair, budidaya jamur hingga batako apung dan berjalan lancar, maka akhirnya menjadi pusat perhatian banyak pihak.
Dan kelompok usaha inipun berhak menyabet penghargaan dari Bupati Malang sebagai Penggerak Ekonomi Perdesaan pada tahun lalu. Karena sangat langka kegiatan ekonomi yang dibangun oleh para TKI Purna terkelola dengan organisasi yang baik. “Ini embrio yang bagus untuk dikembangkan ke daerah lain.”
Lebih-lebih sejak keterlibatan Bank UMKM Jawa Timur (Bank BPR Jatim) yang memang commited dalam pembiayaan sektor mikro memperhatikan dengan memberikan kucuran dana hingga mencapai Rp1,2 miliar hanya dalam tempo tiga bulan.
“Padahal sebelumnya kami kerap hanya dipandang sebelah mata, dan tidak dihiraukan. Atau bahkan ketika ada pejabat datang disuruh ngomong ini itu, tapi saat kami minta adanya perhatian, yaitu berupa pemberdayaan khususnya bagi kalangan TKI, baik yang masih aktif maupun yang sudah purna tidak ada tanggapan.”
Termasuk ketika bertatap muka dengan Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar dalam sebuah acara di Kalipare beberapa bulan lalu, permohonan bantuan yang diajukan untuk pemberdayaan bagi para TKI Purna senilai Rp21 juta tidak ada tanggapan. Raib entah kemana. “Padahal saat itu semua pejabat pemerintah terkait, mulai dari pusat, provinsi sampai kabupaten Malang hadir.”
Proposal kami waktu itu sangat rinci, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Kami berani mengajukan [bantuan], karena kami tahu pemerintah memiliki anggaran pemberdayaan ekonomi pedesaan yang cukup besar. Hanya saja yg selama ini yang ditujukan untuk pemberdayaan bagi TKI sangatlah kecil sekali dan implementasinya tidak jelas.”
Padahal nilai remitansi, yaitu dana yang masuk ke Indonesia dari kegiatan TKI di luar negeri jumlahnya mencapai ratusan miliar rupiah per tahun untuk Kab. Malang. “Kami hanya berharap sisihkan sedikit saja anggaran untuk pemberdayaan TKI Purna, agar sepulang mereka kerja di luar negeri ada hasilnya. Ada pekerjaan yang bisa menjamin kelangsungan hidup keluarganya di masa depan.”

/Diorangkan/
Dia sendiri mengakui bantuan kredit dari bank UMKM Jawa Timur tidak disangka-sangka. Karena memang tidak pernah membayangkan [dapat kredit]. Mengingat sebagai lembaga swadaya masyarakat yang tidak punya aset tetap, tidak akan ada bank yang melirik.
“Ternyata Bank UMKM Jawa Timur peduli. Jujur, ini serius, bukan basa basi. Riil. Terbukti 32 kelompok usaha dan 4 lembaga karang taruna yang kami kelola di Kec. Kalipare dapat kucuran kredit hingga Rp1,2 miliar yang ditujukan bagi 350 orang TKI Purna anggota kami dalam tiga bulan.”
Dia menyebutkan proses pemberian kredit Bank UMKM Jawa Timur tergolong cepat, dimana semua proses dipandu oleh staf/karyawan bank. “Kami dipandu oleh mereka sehinga cepat beres dan cair. Kami benar-benar merasa diorangkan.”
Pihaknya bahkan mengaku, pinjaman akan terus ditambah hingga akhir tahun mencapai Rp2 miliar. “Karena manajemen melihat, kami bersama anggota kelompok usaha binaan sangat serius dan tidak main-main. Saat inipun pengembalian kredit berjalan dengan lancar atau bad debt nol prosen.”
Manaf menjelaskan, sistem pinjaman yang diberlakukan ke anggota koperasi bersifat tanggung renteng, dimana pinjaman kepada individu sebesar Rp2 juta per orang dengan suku bunga 12% efektif dalam tempo dua tahun. “Kalau ada masalah angsuran di anggota kelompok yang tangani adalah pengurus kelompoknya. Sejauh ini lancar.”
Manaf sendiri sebelumnya adalah TKI yang bekerja di industri otomotif di Korea, Daewoo. Diperusahaan tersebut dia bekerja selama tiga tahun mulai 1988-2000. Pulang dari Korea, pria …anak ini langsung berumah tangga.
Karena istrinya hamil dan punya anak, akhirnya diputuskan tidak lagi kembali ke Korea. Saat itu dia mengaku belum punya kegiatan usaha. Tapi setelah sadar desa-desa disekitar wilayah Kec. Kalipare, termasuk desa Arjowilangun adalah sentra TKI, maka dia merintis buka warung telekomunikasi (wartel) yang sangat dibutuhkan para keluarga TKI berkomunikasi dengan TKI. “Jumlahnya lima unit yang dibangun di sejumlah desa sekitar Kec. Kalipare.”
Selang berapa lama kemudian usahanya dikembangkan ke warung internet (warnet) dan toko swalayan (mini market) sampai sekarang. “Saat itu (tahun 2000an) saja omzet wartel yg kami kelola sampai Rp31 juta per bulan, terbesar di Malang.”
Menyadari betapa besarnya potensi para TKI Purna yang ada di Kec. Kalipare yang mencapai 755 orang dan 855 orang yang menjadi TKI saat ini, maka Manaf tergerak hatinya untuk membentuk lembaga swadaya Pos Daya Senang Hati.
“Awalnya namanya Kelompok Usaha Bina Mandiri, tapi sejak ketemu Pak Najik (Pemimpin Cabang Bank UMKM Jawa Timur Cabang Malang) kami diarahkan menjadi Koperasi Pos Daya Senang Hati sampai sekarang.”

Translate »