Bahasa :
Bank UMKM Jawa Timur berburu TKI hingga ke Hongkong | ::Official Website BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur::

Bank UMKM Jawa Timur berburu TKI hingga ke Hongkong

Upaya Bank UMKM Jawa Timur (Bank BPR Jatim) untuk memberikan layanan kepada nasabah maupun kelompok usaha kecil mikro terus digenjot. Salah satu kelompok nasabah yang kini intensif dibidik adalah kalangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), termasuk TKI Purna. Bahkan untuk menjangkau layanan kepada ‘Pahlawan’ devisa tersebut dilakukan dengan menjumpai mereka yang ada di Hongkong, salah satu sentra sebaran TKI yang jumlahnya saat ini mencapai sekitar 150.000 orang.
Untuk keperluan tersebut awal Juli lalu rombongan dari jajaran manajemen Bank UMKM Jawa Timur ‘diangkut’ ke Hongkong , termasuk diantaranya Komisaris Utama Rasiyo, Direktur Utama R. Soeroso, Direktur Pemasaran Subawi, Pemimpin Cabang Malang Najik Umar, Pemimpin Cabang Tulungagung Sigit, Pemimpin Cabang Trenggalek Heni. Selama di Hongkong ratusan TKI yang datang dikumpulkan di Taman Victoria, sebuah taman yang selama ini jadi mangkal TKI setiap akhir pekan. Di acara tersebut manajemen Bank UMKM Jawa Tim melakukan sosialisasi tentang berbagai program yang bisa dilayani, termasuk pengiriman atau transfer uang ke keluarga TKI yang ada di Jawa Timur. Tak cukup TKI, acara tersebut juga mendapat perhatian serius dari Konsul Jenderal Indonesia untuk Hongkong Bambang Susanto yang juga ikut berbaur bersama-sama TKI.
Bambang, menurut satu sumber yang ikut dalam rombongan, bahkan mengapresiasi managemen Bank UMKM Jawa Timur sebagai satu-satunya bank sekelas BPR yang peduli kepada TKI. “Bahkan audiensi yang dilakukan bank umum dengan para TKI tidak pernah sebesar dan meriah seperti yang dilakukan Bank UMKM Jawa Timur,” kata Bambang seperti dikutip sumber tersebut.
Menurut Soeroso, meski saat ini Bank UMKM Jawa Timur belum memiliki kantor perwakilan di Hongkong, transfer uang dari Hongkong ke keluarga TKI di Jawa Timur tetap dapat dilayani. “Karena Bank UMKM Jawa Timur bermitra dengan Bank BNI 1946 dalam layanan Real Time Gross Setlement (RTGS). Jadi transfer uang dari Hongkong bisa melalui BNI 1946 yang selanjutnya diteruskan ke keluarga mereka melewati Bank UMKM Jawa Timur maupun koperasi yang memiliki afiliasi kemitraan dengan Bank UMKM Jawa Timur,” kata Soeroso. Cabang Bank UMKM Jawa Timur, kata dia, telah tersebar di berbagai pelosok Jawa timur, demikian juga koperasi yang bermitra dengan Bank UMKM Jawa Timur juga cukup banyak.
Koperasi-koperasi itu umumnya berada dipusat-pusat wilayah sentra-sentra TKI, seperti di kab. Malang, Tulungagung, Ponorogo, Blitar hingga Banyuwangi. ”Ke depan kerjasama kemitraan dengan koperasi di daerah-daerah tersebut akan terus digalakkan, ya a.l juga untuk melayani nasabah dari kalangan TKI ini.”
Soeroso menjelaskan perburuan TKI hingga ke Hongkong menunjukkan keseriusan Bank UMKM Jawa Timur untuk memberikan layanan bagi kalangan TKI dan keluarganya serta TKI Purna. Dia menyebutkan hubungan Bank UMKM Jawa Timur dengan TKI Purna telah terbina sejak tahun lalu di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang. Bank UMKM Jawa Timur Cabang Malang bahkan menjadi inisiator bagi berdirinya Koperasi Pos Daya TKI Purna Senang Hati di Desa Arjowilangun, Kec. Kalipare yang kini jumlah anggotanya mencapai 500an orang. Pembentukan Koperasi Pos Daya TKI Purna tersebut yang diketuai oleh Manaf Suwanto, semula hanya merupakan perkumpulan dari kelompok usaha skala mikro yang beranggotakan ratusan TKI Purna di wilayah Kec. Kalipare, Kab. Malang.
Wadah kelompok usaha yang terbentuk sejak 2,5 tahun lalu itu semula bernama Kelompok Bina Usaha Mandiri. Dimana kegiatan usaha para anggotanya macam-macam, a.l perdagangan, catering, warung telekomunikasi (wartel) atau warung internet (warnet) hingga budidaya jamur, bengkel, hingga mebelair serta batu apung. “Kelompok Usaha Bina Usaha Mandiri kemudian berubah status menjadi Koperasi Pos Daya TKI Purna Senang Hati pada awal tahun ini sesuai inisiatif dan arahan pak Najik [Pemimpin bank UMKM Jawa Timur Cabang Malang,” kata Manaf. Pihaknya mengakui meski terbentuk cukup lama, perjalanan kelompok usaha Bina Usaha Mandiri relatif lamban. Berbagai upaya untuk menggerakkan terbentur banyak halangan.
Permintaan bantuan pemberdayaan yang diajukan ke berbagai pihak, kata Manaf, seperti raib ditelan bumi, alias tidak ada yang menggubris. “Padahal di satu sisi kami kerapkali disuruh mewakili bicara kalau ada kunjungan tamu pejabat dari luar daerah yang membicarakan tentang pemberdayaan TKI.”
Sampai akhirnya, lanjut dia, melalui komunikasi yang intens dengan Najik Umar yang membimbing dan memandunya untuk mendirikan koperasi. “Akhirnya Jadilah Koperasi Pos Daya TKI Purna Senang Hati pada Maret 2012.”
Apa yang menjadi kebutuhan kelompok, termasuk kredit dilayani dengan baik. ” Kami tidak menyangka perhatian bank UMKM Jawa Timur sebesar itu. Padahal sebelumnya kami tidak pernah dilirik oleh lembaga perbankan lain.”
Respon Bank UMKM Jawa Timur, kata Manaf, sangat cepat. Dimana dalam tempo hanya sekitar tiga bulan sedikitnya kredit sebesar Rp1,2 miliar yang diperuntukkan bagi 35 kelompok Pos Daya dan empat Karang Taruna yang melibatkan 350 anggota cair.
Ungkapan serupa juga dikemukakan Istatik, Bendahara Koperasi Pos Daya TKI Purna Senang Hati Desa Arjowilangun. “Saat inipun pengajuan pinjaman ke koperasi terus mengalir, sehingga jumlahnya dipastikan akan terus membengkak.”
Istatitik yang pernah delapan tahun menjadi TKW di Hongkong dan kini menggeluti usaha salon kecantikan tersebut mengaku senang dengan kredit yang dilayani Bank UMKM Jawa Timur. “Kami sebelumnya tidak pernah dilirik bank.”
Dia berjanji akan mengajak saudara maupun teman2nya yang kini menjadi TKI di Korea, Hongkong dan Taiwan akan diajak bergabung ke Koperasi Pos Daya TKI Purna Senang Hati. “Keluarga mereka umumnya kan tetangga saya, jadi mereka tahu apa yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.”
Najik menjelaskan nilai kredit yang dikucurkan bagi kelompok Pos Daya rata-rata Rp2 juta per orang, sehingga jika satu kelompok terdiri atas 10 orang maka kreditnya mencapai Rp20 juta.
Kredit berjangka waktu dua tahun tersebut dikenakan tingkat bunga 12% per tahun efektif tahunan dan tanpa agunan. “Bagi debitur diberikan tabungan Rp10.000 per orang. Tabungan ini diperlukan selain untuk menyimpan uang nasabah juga untuk sarana mengangsur kredit.”
Bank UMKM Jawa Timur memberlakukan kredit bagi kelompok usaha Pos Pemberdayaan Keluarga tersebut dengan sistem tanggung renteng. “Dimana tanggung jawab berada dipundak sesama anggota. Jika ada anggota yang nunggak kredit ditanggung anggota lainnya. Disinilah peran pengurus kelompok untuk menyeleksi anggotanya yang ikut. Alhamdulillah selama ini lancar, dimana tingkat bad debt (pinjaman bermasalah) relatif kecil 0,1% gross.”
Bank UMKM Jawa Timur sendiri menyediakan kredit Pundi Rakyat tersebut disokong penuh oleh Yayasan Dana Mandiri yang diketuai Haryono Suyono Dimana resiko kredit dijamin oleh PT Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida) hingga 70%, dan sisanya 30% oleh Damandiri.
Najik bahkan menyatakan siap mendorong kucuran kredit bagi kelompok Koperasi Pos Daya tersebut lebih pesat lagi mengingat jumlah TKI Purna maupun keluarga TKI yang usahanya feasible di lima desa di wilayah Kec. Kalipare saja cukup besar, mencapai sekitar 1.500 orang.
“Kami perkirakan sampai akhir tahun bisalah kalau sampai Rp2 miliar. Apalagi jika pembentukan Koperasi Pos Daya serupa dikembangkan ke wilayah sentra TKI lain.”
Pemberian kredit Pundi Rakyat tanpa agunan tersebut memang khusus diberikan bagi usaha mikro. “Jika usaha mereka berkembang nantinya diberikan kredit umum lain dengan plafon lebih besar sampai Rp10 juta, bahkan hingga Rp25 juta. Kalau ini pakai agunan, meski tetap hanya 30% karena 70% jaminan di-cover PT Jamkrida.”

/Penguatan ekonomi Perdesaan/
Soeroso sendiri menilai perhatian bagi kalangan TKI dan keluarga maupun TKI Purna merupakan sebuah kewajiban. “Ini merupakan komitmen kami untuk memperhatikan mereka yang berada pada level paling bawah. Usaha yang mereka lakukan juga usaha mikro dengan segala permasalahan yang komplek.”
Selama ini perhatian yang diberikan pemerintah maupun kelompok pemerhati lain kepada TKI dan keluarganya lebih ditujukan pada aspek perlindungan secara hukum maupun legalitas, tapi yang menyentuh bidang pemberdayaan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh keluarga TKI relatif minim.
Sangat jarang lembaga keuangan yang melirik mereka sebagai nasabah potensial karena dianggapnya usaha mereka umumnya tidak feasible, dan tidak bankable sehingga berisiko tinggi.
Lha kalau semuanya beranggapan begitu, siapa yang peduli mereka. “Padahal mereka itu meninggalkan rumah dengan berbagai risiko yang sangat komplek, mulai pisah dengan keluarga hingga bertaruh nyawa. Di sisi lain devisa yang disumbangkan bagi negara sangatlah besar, triliunan rupiah per tahun.”
Disinilah, lanjut dia, Bank UMKM Jawa Timur melihat betapa hausnya para TKI itu dan keluargnya akan perhatian dan bimbingan, khsususnya menyangkut layanan yang berkaitan dengan pengembangan usaha keluarga TKI maupun TKI Purna.
“Lebih beruntung lagi dalam hal ini Bank UMKM Jawa Timur mendapat dukungan penuh yayasan Damandiri dan juga kantor Kementerian Koperasi dan UKM dengan dana LPDB serta dana bergulir (dagulir) dari Provinsi Jawa Timur yang khusus ditujukan bagi kelompok usaha mikro di perdesaan.”
Jadi, semua program ini sesuai dengan kebijakan pak Gubernur Jatim Soekarwo untuk memperkuat ekonomi perdesaan. “Jika usaha di perdesaan tumbuh, maka ekonomi di desa akan bergerak. Tingkat urbanisasi ke kota akan berkurang karena tenaga kerja terserap ke sana. Lha dari pajak yang terbayarkan oleh usaha masyarakat nantinya akan dikembalikan berupa pembangunan infrastruktur sebagai bentuk redistribusi aset.”

Translate »